Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Quote:
Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA". Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?
1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : salat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Quote:
Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita... kan
Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut tunduk kepada cara-cara peraturan buatan mereka. (emansipasi ala western) Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumnya peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan hukum buatan manusia. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.
Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).
Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.
entah kau sebut ini apa.. puisi,sastra,kata mutiara,pantun,hikmah atau sekedar tulisan bermakna
Tampilkan postingan dengan label cinta Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta Allah. Tampilkan semua postingan
20 Des 2011
19 Des 2011
. WANITA YG KURANG BERSYUKUR
Suatu
hari ada seorang wanita yang ingin mencari jodoh, ia mendambakan
seorang lelaki yang telah ia kriteriakan, akhirnya setelah berapa lama
ia mencari dan tidak bertemu ia menyerah hingga ia pergi ke toko yang
menjual lelaki-lelaki yang siap menjadi suami.
...
Setelah sampai di toko suami, ia masuk kelantai 1, ia sempat membaca
tulisan di atas " KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB " ia bergumam
dalam hati, " cocok, sesuai yang ku harapkan "
Ia melihat tangga lantai 2 dan ia pun menaikinya, ia membaca tulisan di pintu masuk
" KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL "
Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini dia, sudah punya pekerjaan, jadi aku nggak usah repot-repot "
Ia mencari- cari suami yang ia cari, tak sengaja ia mendapati tangga
lantai 3 dan ia pun naik ke lantai 3, ia sempat juga membaca tulisan di
atas pintu masuk
" KUALITAS BERIMAN, TAK MENYEKUTUKAN ALLAH, ALIM, BERPENDIDIKAN TINGGI, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL. "
di dalam hati ia bergumam, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku akan terus naik sampai aku menemukan yang terbaik"
akhirnya ia masuk ke lantai 4 diatas pintu ia membaca tulisan
" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL, BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU."
Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku harus naik ke lantai 5 "
Setelah sampai di lantai 5 ia membaca tulisan yang ada di atas pintu masuk
" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL,
BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU, SIAP MENIKAH, MASIH
BUJANGAN. "
Sang wanitapun bergumam riang dalam hati, "
alangkah beruntungnya aku, aku harus mendapatkan yang lebih dari ini,
aku harus terus naik. " hatinya tertawa bangga, akhirnya ia mencari
tangga lantai 6, dengan semangat ia menaiki tangga dan hati tertawa.
Sampai di lantai 6 ia mencari pintu masuk, setelah lama mencari ia
menemukan pintu tersebut dan ia pun membaca tulisan di atas pintu,
" ANDA ADALAH ORANG YANG KE 100.999.891 DARI ORANG-ORANG YANG TAMAK DAN
TAK PERNAH BERSYUKUR ATAS APA YANG TELAH DIBERIKAN PADA AWAL "
Sang wanitapun terkejut dan ia mencari tangga turun ke lantai 5, tapi
apa yang ia temukan, pintu tangga telah tertutup rapat dan ia terpaku di
lantai 6. ia menyesal karena tidak syukurnya ia, itu lah orang yang tak
pernah puas.......
Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....
15 Des 2011
AL-QUR'AN UNTUK ORANG HIDUP BUKAN UNTUK ORANG MATI
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pi-kiran." (Shaad: 29)
Para sahabat berlomba-lomba untuk mengamalkan perintah-perintah Al-Qur'an dan meninggalkan larangan-larangannya. Karena itu mereka menjadi bahagia di dunia maupun di akhirat. Ketika umat Islam meninggalkan ajaran-ajaran Al-Qur'an, dan hanya menjadikannya bacaan untuk orang-orang mati, di mana mereka membacakannya di kuburan dan ketika ta'ziyah , mereka ditimpa kehinaan dan perpecahan. Apa yang diprihatinkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam dahulu, kembali menjadi kenyataan, sebagaimana dikisahkan Al-Qur'an,
"Berkatalah Rasul, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan'." (AI-Furqan: 30)
Allah menurunkan Al-Qur'an untuk orang-orang hidup agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, Al-Qur'an bukan untuk orang-orang mati. Mereka telah putus segala amalnya. Karena itu, pahala bacaan Al-Qur'an yang disampaikan (dihadiahkan) kepada mereka berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan hadits shahih tidaklah sampai kepada mereka, kecuali dari anaknya sendiri. Sebab anak adalah dari usaha ayahnya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda,
"]ika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo'akan kepadanya." (HR. Muslim)
Allah berfirman.
"Dan bahwasanya seorang tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (An-Najm: 39)
Ibnu Katsir dalam menyebutkan tafsir ayat di atas mengatakan, "Sebagaimana tidak dipikulkan atasnya dosa orang lain, demikian pula ia tidak mendapat pahala kecuali dari usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi'i kemudian mengambil kesimpulan bahwa bacaan Al-Qur'an tidak sampai pahalanya, jika dihadiahkan kepada orang-orang mati. Sebab pahala itu tidak dari amal atau usaha mereka. Karena itulah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak mengajarkan hal tersebut kepada umatnya, juga tidak menganjurkan atasnya, tidak pula menunjukkan kepadanya, baik dengan dalil nash atau sekedar isyarat. Yang demikian itu menurut riwayat juga tidak pernah dilakukan para sahabat.
Seandainya hal itu suatu amal kebaikan, tentu mereka akan mendahului kita dalam mengamalkannya. Perkara mendekatkan diri kepada Allah (ibadah) hanyalah sebatas petunjuk dalil-dalil nash, dan tidak berdasarkan berbagai macam kias dan pendapat. Adapun do'a dan shadaqah, maka para ulama sepakat bahwa keduanya bisa sampai kepada orang-orang mati, di samping karena memang ada dalil yang menegakkan tentang hal tersebut."
Kini, membaca AI-Qur'an untuk orang-orang mati menjadi tradisi di kalangan mayoritas umat Islam. Bahkan hingga membaca Al-Qur'an sebagai pertanda bagi adanya musibah kematian.
Jika dan sebuah pemancar siaran terdengar bacaan Al-Qur'an secara beruntun, hampir bisa dipastikan bahwa ada seorang penguasa atau pemimpin meninggal dunia. Jika anda mendengarnya dari sebuah rumah, maka akan segera anda ketahui bahwa di sana ada kematian dan dukacita.
Suatu ketika, seorang ibu mendengar salah seorang pembesuk anaknya yang sedang sakit membaca Al-Qur'an. Serta-merta ibu itu berteriak, "Anak saya belum meninggal. Jangan bacakan Al-Qur'an untuknya!"
Kisah lain, seorang wanita mendengar surat Al-Fatihah dibacakan dari sebuah siaran radio, ia kemudian berucap, "Saya tidak suka mendengarnya. Bacaan itu mengingatkan saya kepada saudara kandungku yang telah meninggal. Ketika itu, dibacakan juga untuknya surat Al-Fatihah." (Sebab pada dasarnya manusia membenci kematian dan hal-hal yang mengingatkan pada kematian).
Bagaimana mungkin Al-Qur'an bisa memberi manfaat kepada mayit, yang ketika masa hidupnya suka meninggalkan shalat? Bahkan AI-Qur'an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.
Allah berfirman,
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (Al-Maa'uun: 4-5)
Ayat diatas berbicara tentang orang-orang yang suka meremehkan shalat dengan mengakhirkannya dan waktu yang sesungguhnya, apatah lagi jika ia meninggalkan shalat tersebut ?
Adapun hadits,
"Bacalah untuk para mayitmu surat Yaasiin."
Menurut lbnu Qaththan, setelah melalui penelitian dengan cermat, hadits itu mudhtharib (kacau), mauquf (tidak sampai isnad-nya kepada Nabi), majhul (tidak diketahui).
Dan Daruquthni mengatakan, hadits itu mudhtharib isnad-nya (para perawinya kacau, tidak jelas), majhul matan-nya (kandungan maknanya tidak diketahui) dan tidak shahih (hadits dha'if, lemah).
Tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, juga tidak dari para sahabat beliau bahwa mereka membacakan Al-Qur'an untuk mayit, baik bacaan surat Yaasiin, AI-Fatihah atau surat lainnya dari Al-Qur'an. Tetapi yang dianjurkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam kepada para sahabatnya, seusai menguburkan mayit adalah,
"Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu, dan mintakanlah keteguhan (iman) untuknya, karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya." (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)
Salah seorang da'i berkata, "Celakalah engkau wahai orang (yang mengaku) muslim! Engkau meninggalkan Al-Qur'an di masa hidupmu dan tidak mengamalkannya. Hingga ketika engkau mendekati kematian, mereka membacakan untukmu surat Yaasiin, supaya kamu meninggal dengan mudah. Apakah Al-Qur'an diturunkan supaya kamu hidup atau supaya kamu mati?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak mengajarkan kepada para sahabatnya agar mereka membacakan surat Fatihah ketika masuk kuburan. Tetapi yang beliau ajarkan adalah agar membaca,
"Semoga keselamatan tercurah untukmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang beriman dan orang-orang muslim. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu. Aku memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kamu sekalian." (HR. Muslim dan lainnya)
Hadits di atas mengajarkan, agar kita mendo'akan orang-orang mati, bukan berdo'a dan meminta pertolongan kepada mereka.
Allah menurunkan Al-Qur'an, agar dibacakan atas orang-orang yang mungkin mampu mengamalkannya. Dan tentu, mereka adalah orang-orang yang masih hidup. Allah berfirman,
"Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir." (Yaasin: 70)
Adapun orang-orang yang telah meninggal dunia, maka mereka tidak lagi bisa mendengar bacaan Al-Qur'an, dan tak mungkin mampu mengamalkan isinya.
Ya Allah, karuniailah kami untuk bisa mengamalkan Al-Qur'anul Karim, sesuai dengan jalan dan petunjuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam .
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pi-kiran." (Shaad: 29)
Para sahabat berlomba-lomba untuk mengamalkan perintah-perintah Al-Qur'an dan meninggalkan larangan-larangannya. Karena itu mereka menjadi bahagia di dunia maupun di akhirat. Ketika umat Islam meninggalkan ajaran-ajaran Al-Qur'an, dan hanya menjadikannya bacaan untuk orang-orang mati, di mana mereka membacakannya di kuburan dan ketika ta'ziyah , mereka ditimpa kehinaan dan perpecahan. Apa yang diprihatinkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam dahulu, kembali menjadi kenyataan, sebagaimana dikisahkan Al-Qur'an,
"Berkatalah Rasul, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan'." (AI-Furqan: 30)
Allah menurunkan Al-Qur'an untuk orang-orang hidup agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, Al-Qur'an bukan untuk orang-orang mati. Mereka telah putus segala amalnya. Karena itu, pahala bacaan Al-Qur'an yang disampaikan (dihadiahkan) kepada mereka berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan hadits shahih tidaklah sampai kepada mereka, kecuali dari anaknya sendiri. Sebab anak adalah dari usaha ayahnya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda,
"]ika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo'akan kepadanya." (HR. Muslim)
Allah berfirman.
"Dan bahwasanya seorang tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (An-Najm: 39)
Ibnu Katsir dalam menyebutkan tafsir ayat di atas mengatakan, "Sebagaimana tidak dipikulkan atasnya dosa orang lain, demikian pula ia tidak mendapat pahala kecuali dari usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi'i kemudian mengambil kesimpulan bahwa bacaan Al-Qur'an tidak sampai pahalanya, jika dihadiahkan kepada orang-orang mati. Sebab pahala itu tidak dari amal atau usaha mereka. Karena itulah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak mengajarkan hal tersebut kepada umatnya, juga tidak menganjurkan atasnya, tidak pula menunjukkan kepadanya, baik dengan dalil nash atau sekedar isyarat. Yang demikian itu menurut riwayat juga tidak pernah dilakukan para sahabat.
Seandainya hal itu suatu amal kebaikan, tentu mereka akan mendahului kita dalam mengamalkannya. Perkara mendekatkan diri kepada Allah (ibadah) hanyalah sebatas petunjuk dalil-dalil nash, dan tidak berdasarkan berbagai macam kias dan pendapat. Adapun do'a dan shadaqah, maka para ulama sepakat bahwa keduanya bisa sampai kepada orang-orang mati, di samping karena memang ada dalil yang menegakkan tentang hal tersebut."
Kini, membaca AI-Qur'an untuk orang-orang mati menjadi tradisi di kalangan mayoritas umat Islam. Bahkan hingga membaca Al-Qur'an sebagai pertanda bagi adanya musibah kematian.
Jika dan sebuah pemancar siaran terdengar bacaan Al-Qur'an secara beruntun, hampir bisa dipastikan bahwa ada seorang penguasa atau pemimpin meninggal dunia. Jika anda mendengarnya dari sebuah rumah, maka akan segera anda ketahui bahwa di sana ada kematian dan dukacita.
Suatu ketika, seorang ibu mendengar salah seorang pembesuk anaknya yang sedang sakit membaca Al-Qur'an. Serta-merta ibu itu berteriak, "Anak saya belum meninggal. Jangan bacakan Al-Qur'an untuknya!"
Kisah lain, seorang wanita mendengar surat Al-Fatihah dibacakan dari sebuah siaran radio, ia kemudian berucap, "Saya tidak suka mendengarnya. Bacaan itu mengingatkan saya kepada saudara kandungku yang telah meninggal. Ketika itu, dibacakan juga untuknya surat Al-Fatihah." (Sebab pada dasarnya manusia membenci kematian dan hal-hal yang mengingatkan pada kematian).
Bagaimana mungkin Al-Qur'an bisa memberi manfaat kepada mayit, yang ketika masa hidupnya suka meninggalkan shalat? Bahkan AI-Qur'an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.
Allah berfirman,
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (Al-Maa'uun: 4-5)
Ayat diatas berbicara tentang orang-orang yang suka meremehkan shalat dengan mengakhirkannya dan waktu yang sesungguhnya, apatah lagi jika ia meninggalkan shalat tersebut ?
Adapun hadits,
"Bacalah untuk para mayitmu surat Yaasiin."
Menurut lbnu Qaththan, setelah melalui penelitian dengan cermat, hadits itu mudhtharib (kacau), mauquf (tidak sampai isnad-nya kepada Nabi), majhul (tidak diketahui).
Dan Daruquthni mengatakan, hadits itu mudhtharib isnad-nya (para perawinya kacau, tidak jelas), majhul matan-nya (kandungan maknanya tidak diketahui) dan tidak shahih (hadits dha'if, lemah).
Tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, juga tidak dari para sahabat beliau bahwa mereka membacakan Al-Qur'an untuk mayit, baik bacaan surat Yaasiin, AI-Fatihah atau surat lainnya dari Al-Qur'an. Tetapi yang dianjurkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam kepada para sahabatnya, seusai menguburkan mayit adalah,
"Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu, dan mintakanlah keteguhan (iman) untuknya, karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya." (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)
Salah seorang da'i berkata, "Celakalah engkau wahai orang (yang mengaku) muslim! Engkau meninggalkan Al-Qur'an di masa hidupmu dan tidak mengamalkannya. Hingga ketika engkau mendekati kematian, mereka membacakan untukmu surat Yaasiin, supaya kamu meninggal dengan mudah. Apakah Al-Qur'an diturunkan supaya kamu hidup atau supaya kamu mati?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak mengajarkan kepada para sahabatnya agar mereka membacakan surat Fatihah ketika masuk kuburan. Tetapi yang beliau ajarkan adalah agar membaca,
"Semoga keselamatan tercurah untukmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang beriman dan orang-orang muslim. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu. Aku memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kamu sekalian." (HR. Muslim dan lainnya)
Hadits di atas mengajarkan, agar kita mendo'akan orang-orang mati, bukan berdo'a dan meminta pertolongan kepada mereka.
Allah menurunkan Al-Qur'an, agar dibacakan atas orang-orang yang mungkin mampu mengamalkannya. Dan tentu, mereka adalah orang-orang yang masih hidup. Allah berfirman,
"Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir." (Yaasin: 70)
Adapun orang-orang yang telah meninggal dunia, maka mereka tidak lagi bisa mendengar bacaan Al-Qur'an, dan tak mungkin mampu mengamalkan isinya.
Ya Allah, karuniailah kami untuk bisa mengamalkan Al-Qur'anul Karim, sesuai dengan jalan dan petunjuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam .
14 Des 2011
Allah pun menjawab keluhanmu
Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”
Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....”
Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya...”
Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik...”
Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra'd :28)
Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”
Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)
Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”
Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)
Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw...”
Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
ketika kita mengeluh : "ampuuun kenapa sih susah amat nih kerjaan..."
Allah menjawab : "sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Alam Nasyrah;6-7)
Langganan:
Postingan (Atom)
